Watu Amben ditutup Perekonomian Masyarakat Sekitar Dusun Pandeyan Terganggu

 Uncategorized

 

SEDULURNYENI.COM – Kabupaten Bantul merupakan bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta, yang letak geografisnya berbatasan dengan tiga Kabupaten, satu kota Yogyakarta. Sebelah timur Kabupaten Gunungkidul, Sebelah barat Kabupaten Kulon Progo. Sedangkan sebelah utara, yaitu Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman.

Kabupaten Bantul sejak dulu sampai sekarang dikenal oleh semua orang, mempunyai tempat obyek pariwisata Alam, Pantai, cagar budaya, petilasan petilasan peninggalan pada jaman Kerajaan Mataram Hindu maupun wisata religi yang juga ramai dikunjungi wisatawan asing maupun domestic. Apalagi wisata kuliner dari berbagai makanan khas “Olahan nDesa” di sajikan ditempat wisata tersebut. Sehingga dengan banyaknya destinasi wisata ini, dapat meningkatkan ekonomi masyarakat , meningkatkan PADes, PAD Kabupaten. Diantara tempat obyek pariwisata Alam, setelah tertata sedemikian rupa lengkap dengan warung kuliner maupun penataan parkir kendaraan pengunjung yang luas telah ditangani langsung oleh Kelompok Sadar Wisata ( POKDARWIS). Seperti hanya, obyek wisata alam Watu Amben yang berada di Dusun Pandeyan, Sarimulyo, Piyungan, Bantul, Yogyakarta. Sedangkan Desa Srimulyo sendiri, mempunyai 17 destinasi wisata yang sama menarik nya. Panorama alam yang indah dipandang, terlebih lagi melihatnya pada malam hari adanya sorotan lampu yang beraneka warna. Sehingga membuat betah pengunjung melihat keindahan panorama alam seperti Malvinas di Amerika Serikat. Adanya Watu Amben, yang bentuknya menyerupai tempat tidurnya yang terbuat dari bambu ini, memang sejak dibuka oleh warga masyarakat Dusun bersama Pokdarwis, selalu ramai pengunjung untuk melihat dari dekat sambil foto bersama dan makan, minum menu masakan khas olahan ndesa yang disajikan oleh warung dikanan kiri Watu Amben.

Namun mulai Minggu 22 Maret 2020 mulai pukul 06.00 WIB ada Line Police disekitar area Watu Amben. Sehingga adanya penutupan ini, perekonomian masyarakat Dusun Pandeyan menjadi terganggu. Melihat kejadian seperti ini, kami sebagai awak media yang tergabung dalam suatu wadah Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia ( AWPI) Bantul, Gunungkidul, Sleman, Kulonprogo bersama Bernas Com.Komunitas Nagari merasa tercengang kaget , kenapa sampai begini.
Mengetahui kejadian yang membuat kami terpanggil untuk menemui beberapa pengurus Pokdarwis Watu Amben.

Menurut Ketua Pokdarwis Mujiyono yang didampingi para Pengelola Wisata Watu Amben, Riyanto (Ketua) dan Agung Tri Haryanto (Sekretaris) kepada AWPI mengungkapkan, “Bahwa penutupan di area wisata ini, adanya informasi yang disampaikan oleh Media Online dengan mengatasnamakan seorang perangkat desa Sarimulyo. Sehingga adanya berita tersebut, membuat resah masyarakat Dusun Pandeyan terutama bagi pengelola dan Pokdarwis maupun pemilik warung, toko menjadi kacau”.

Kemudian pagi pagi, setelah Kerja Bhakti langsung menutupnya. Namung yang menjadi pemikiran Pak Mujiyono bersama para pengelola Wisata Watu Amben kenapa kok langsung lewat media tidak konfirmasi terlebih dahulu dengan Pokdarwis kalau memang perintah dari seorang perangkat desa. Padahal syarat syarat untuk mengelola papan wisata alam ini, sudah saya sampaikan ke desa, Kecamatan beserta jajarannya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten maupun DIY serta Panitikismo karena tempat wisata yang dikelola bersama warung warung ini menempati tanah milik Sultan (SG). Sehingga dengan ditutupnya Wisata Watu Amben yang disampaikan oleh Media Online ini, warga masyarakat dan pengelola menjadi tidak mempunyai penghasilan. Kalau memang penutupan itu atas perintah perangkat kepada Media Online asal tayang itu, seharusnya mulai obyek wisata Bukit Bintang juga ditutup agar Adil. Kalau demikian, Dimana letak Keadilan dan Kejujuran para pejabat dan perangkat desa kepada rakyat kecil, Tolong perhatikan jeritan hati Wong Cilik ini butuh beaya untuk hidup sehari hari dan beaya sekolah anaknya. Ungkap Mujiyono Ketua Pokdarwis Dusun Pandeyan.

‌Tidak lama kemudian AWPI bersama awak media Bernas Id.Com Nagari meluncur untuk menemui salah seorang perangkat desa dikediamannya. Setelah ketemu, AWPI Bantul yang diprakarsai Sugiyanto selaku Ketua dan Saptono Sekretaris menanyakan langsung mengenai penutupan atas saran dari Tiyas Santoso Kabag Kesra Desa Srimulyo kepada salah Media Online yang sengaja membuat resah masyarakat. Ternyata setelah ketemu, Kabag Kesra ini menuturkan dengan sebenarnya, sama sekali belum pernah diwawancarai langsung oleh wartawan online. Melainkan lewat WA, jadi tidak menemui langsung untuk mewancarai. Namun masalah tidak memberikan ijin operasional untuk mengelola Wisata Watu Tumpeng, memang tidak memberikan ijin karena Zona Merah yang rawan longsor. Kecuali ada ijin yang sudah ditandatangani Lurah Desa lain soal. Bahkan Kabag Kesra juga menyampaikan, kalau setiap tiga bulan sekali mengadakan pertemuan rutin dengan Pokdarwis Pandeyan. Mengetahui jawab Kabag Kesra Tiyas Santosa kepada Crew AWPI dengan jujur, lugas dan terang, ternya wartawan online itu sendiri dengan mencatut nama seorang perangkat desa. ‌(Jn,Sg,Sn,Tp kc/ AWPI)


Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan