Seni Untuk Amal ” Pameran & Bazaar Art Seniman Peduli Bencana”

 Seni

Seni untuk Amal

SEDULURNYENI.COM, Yogyakarta ( 28/2/2021)

Art for Charity

Seni untuk Amal

  • Pembuka

Memory di tahun 1977 di Taman Ismail Marzuki; terlintas di benak saya, ketika mengunjungi pameran Ipe Ma’ruf seorang illustrator handal di jamannya. Beliau menerima uang hasil jualnya karya lukis, tentu sajat idak sedikit menurutuku ransaya saat itu; namun uang itu diserahkan kepada peminta-minta seketika karena rasa iba dengan alasan untuk keluarganya. Pak Ma’ruf lupa bahwa ternyata istrinya menunggu uang hasil penjualan lukisan tadi, padahal nada yang sama juga dialami oleh keluarga Ma’ruf ..uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari itupun harus di usahakan lagi

Ilustrasi di atas merupakan gambaran betapa murah hati seniman; betapa mudahnya rasa tersentuh oleh keadaan yang menyedihkan. Seniman adalah sosok manusia yang eksentrik, dalam arti mudah tersentuh oleh hal-hal yang bersifat ‘kemanusiaan’, karena rasa selalu diasah dengan kebiasaan mengamati disertai dengan memahami keadaan. Proses ini masuk dalam kerangka ‘representasi’.

“ Representasi adalah proses dimana sebuah objek ditangkap oleh indra seseorang, lalu masuk ke akal untuk di proses yang hasilnya adalah sebuah konsep/ide yang dengan bahasa akan disampaikan / diungkapkan kembali…..representasi adalah proses pemaknaan kembali sebuah objek/fenomena/realitas yang maknanya. Representasi juga sangat bergantung dengan bagaimana pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang melakukan representasi tersebut.”    

  (https://www.kompasiana.com/anggraini.m.e)

Seorang seniman adalah orang yang selalu menangkap stimulus baik itu keaadaan atau peristiwa maupun bentuk yang menyentuh sensasinya serta meneruskan dalam imajinasinya menjadi symbol-simbol khusus. Mungkin seluruh panca inderanya dimanfaatkan untuk menangkap objek stimulus yang sangat unik itu, maka pengetahuan serta pengalamannya menjadikan kemampuan yang sensitive dalam memilih objek. Proses ini sering disebut dengan objektifikasi. Semua potensi yang ada dalam diri seniman dikeluarkan untuk mengobjektifikasi; walau hanya sedikit saja materi yang di objektifikasi namun proses pengembangan atau pemaknaan bisa menjadi luas dan besar, makanya sebagian referensi  mengatakan sebagai proses pembesaran, karena objek kecil itu menjadi titik besaran mengembangkan ide dan gagasan. Bagi awam proses ini dianggap ‘remeh’ atau ‘sepele’ karena   hal yang kecil dan tidak berarti dalam kehidupannya. Seniman mempunyai kelebihan dari awam, karena mampu membaca objek sebagai pemicu (triger) mengembangkan idenya dalam karya seni.

Seniman tidak saja orang yang melihat, namun sebenarnya juga orang yang mampu membesarkan ide dan menerang objek material menjadi objek yang formal. Seniman mampu melihat objek dengan mata batin dan pikirannya, maka seolah mempunyai otak ketiga (third brave). Memandang suatu bentuk dan melambungkan menjadi bentuk baru, bentuk lain, atau bentuk yang imajinatif sampai orang tidak paham maknanya. Itulah kelebihan seniman mampu memanfaatkan neuro aesthetics nya untuk menjalankan dan mengubah visi objek kedalam visi karya seni. Akhirnya dapat di katakan seniman adalah seorang yang jenius (asal kata dari genie man genie di baca seni, akhirnya menjadi kata Seniman). Jadi, seniman adalah seorang yang jenius; kadang pikiran, dan rasa melebihi orang biasa dengan menembus mata batinnya. Dalam istilah Ki Ageng Suryo mentaram dikatakan sebagai kramadangsa. Rasa yang hadir dalam dirinya sendiri setelah mampu memahami objek material dan diangkat dalam wawasan objek formalnya.

  • Representasi

Dalam proses representasi, Seniman dengan penciptaan akan mengangkat‘suatu masalah’ tidak hanya berbentuk fisik, namun bentuk yang hadir di belakang bentuk nyata, artinya imajinasinya lebih kuat dari pada matanya. Kemampuan batin ini, seniman membaca peristiwa di belakang ujud fisiknya (material).Oleh karenanya, Aristoteles mengatakan: “The aim of art is to represent not the outward appearance of things, but their inward significance.”Maka, seniman itu kadang dikatakan orang yang eksentrik. Kata ini terangkat dari pemahaman seni dilihat bukan saja bentuk luar namun bentuk dalam yang penuh dengan arti dan permasalahan terpendam. Seniman adalah sosok yang eksentrik karena pemikiran terhadap dapat menembus arti objek yang sebenarnya. Objek ‘seorang pengemis tua’ akan menjadikan imajinasi seorang pengusaha yang kaya raya sebagai subjek lukisannya. Seniman membaca dunia fisik dan dunia di balik fisik suatu objek. Pikiran di luar manusia normal inilah selanjutnya dikatakan eksentrik. (cttn. Eks = luar, sentrik dari sentrum atau pusat yaitu kehidupan mansuia normal, seniman yang eksentrik adalah seniman yang berpikirnya di luar batas pemikiran manusia normal karena ide dan kreativitasnya berbeda dengan awam).

Dalam pameran ini, seorang Godod Sutedjo, Aad Mandar, Maria FP, Kak Aris, Afit Ruseno, Dgam Haryo, MadaLinggau. Nasirun, Sukoco, TulusWarsito, Anugrah Fadly Kreatoseniman, Otok Bima Sidarta, Budi Utomo, Igrar De,Achmad Masih, AmboroLiring, Nugroho Hoho, Komroden Haro, N Dyaz, Arlan Kamil, Yulhendri, Batara Legenda, Slamet Jumiarto, Yamik, menawarkan karya yang tidak sekedar dilihat, namun perlu pencermatan dan pemahaman. Apa yang diatampilkan dalam subjek sebenarnya apa yang dia pikirkan. Peristiwa dibalik subjek yang hadir semestinya menggambarkan kondisi lingkungan fisik maupun social. Karya-karya ini menjadi sebuah gambaran dirinya ketika melihat dan mengobjektifikasi. Pikiran seniman yang eksentrik inilah yang kadang menghadirkan ‘bukan apa yang dia amati’ melainkan apa yang dia pikirkan. Ranah ‘iba’, ‘sayang’, ‘cinta sesama umat manusia’ adalah pikran dan perasaan yang digerakkan untuk melihat objek yang ditangkap oleh mata. Seniman mampu membaca peristiwa dengan persepsinya, karena seni itu letaknya pada persepsi juga; maka mengapresiasi sebuah karya seni rupa yang hadir sebenarnya menghargai persepsi seniman terhadap apa saja yang dijadikan objeknya dalam karya seni.

Kehadiran bentuk-bentuk Seni itu hidup dan tidak diam, selalu bergerak kreatif memunculkan gagasan-gagasan baru, maka Seni mangajak peka terhadap sesuatu, tanggap terhadap situasi dan peristiwa yang terjadi saat ini. Peristiwa alam yang menimpa manusia bisa menjadi objek formal seniman ketika akan mencurahkan gagasannya. Seniman membaca peristiwa dengan pikiran dan rasa oleh karenanya karya seninya sering disebut ‘karta meta kognisi’. Tentu saja, meta kognisi yang di iringi oleh mata batin yang sering dikatakan sebagai pekerjaan otak kanannya yang berbau ‘neuro aesthetics’.

Otak ‘ketiga’ (third brain) yang dijadikan untuk merepresentasi objek; seperti halnya Budhisme menyebutnya sebagai ‘usnisha’. Otak itu dibungkus oleh rambut yang digelung. Ilustrasi ini sebenarnya juga sebagai presentasi dari makna membaca sebuah karya seni. Aristoteles pun juga memberikan gambaran bahwa melihat sebuah karya seni bukan saja apa yang dilihat, melain kanapa yang dipikirkan seniman. Picasso seorang seniman yang penuh terka terhadap dunia ini mengatakan: ‘The artist is a receptacle for emotions that come from all over the place: from the sky, from the earth, from a scrap of paper, from a passing shape, from a spider’s web.‘ (Seniman adalah wadah untuk emosi yang datang dari semua tempat: dari langit, dari bumi, dari secarik kertas, dari bentuk yang lewat, dari jaring laba-laba).

Jika dirunut lebih mendalam, apa yang dilakukan seniman ketika mengambil objek itu berawal dari penangkapan stimulus oleh alat indra yang sering disebut merasakan sensasi yang biasa manusia dapatkan dari kelima alat indra manusia (mata, telinga, hidung, lidah dan kulit). Sensasi yang ditangkap kelima alat indra yang selanjutnya kita maknai seperti, melihat sesuatu yang indah, membau parfum yang wangi, mendengar suara yang lembut, merasakan pedas saat makan, merasakan permukaan yang halus pada keramik itu disebut dengan persepsi. Objek yang sebenarnya hanya dilihat oleh mata awam, oleh seniman dilihat dan diamati ‘peristiwa dibalik peristiwa’. Dan karya yang divisualkan ini lebih mengutamakan bayangan pikiran seniman. Morris Hunt mengatakan ‘nothing more the shadow of humanity’.

03. Perupa dan Kesetiakawanan

Pameran yang digelar sebagai ‘Charity’ ini sebenarnya adalah pembacaannya terhadap situasi masyarakat. Kejadian alam yang menimpa masyarakat menjadi tangkapan objektivikasinya. Beberapa diantaranya membaca kejadian dan membayangkannya hal-hal yang terjadi, namun juga ada karya yang ingin mengungkapkan objek visualnya; Dona Rahmawati, Sri Utami, Gusyud Wahyudi, Batara Lubis, Wantiyo, Meitika Candra Lantiva, Suroto, Diaz Alvares, Nur Azizah, Aris Munandar, LiekSuyanto, Niluh Sudarti, R.Kirman, Hani Santana mengutamakan kejelasan makna bentuk – bentuknya. Sehingga, figur-figur yang dihadirkan merupakan penglihatan dunia nyata.

Mereka semuanya ini ingin menjadikan peristiwa dalam bentuk nyata maupun imajinasi seniman ini menjadi sebuah ‘kawanan’ ide yang memadu sebagai kercedasan kolektif sekaligus keolegialitas dengan lingkungan fisik maupun sosial.Mereka menjadi lebih dekat dengan alam, dan ketika alam ini terjadi musibah, maka ingin mengulurkan tangan serta hati untuknya. Lingkungan social dan ala mini menjadi trigger yang tidak diam dan tidak berhenti hanya dipandang serta ditampilkan dalam karya seni rupa, malinkan juga untuk berbagai rasa. Ketika lingkungan butuh sentuhan batin inilah Seniman melepaskan karya mereka sebagai bagian dari kesetiakawanan. Jika dianggap sebagai amal, maka lukisan pun disodorkan sebagai bagian dari amal. Art is the most intense mode of individualism that the world has known.Di sinilah kondisi sering kali membutuhkan sumber daya, terkadang mendesak, dan seniman merasa berkewajiban untuk membantu atau merasa bersalah jika mereka tidak dapat membantu. Seniman sering merasakan sakitnya sesama manusia dan hewan. Mereka mengembangkan welas asih dan semangat untuk berbagai tujuan amal dan mencoba meringankan penderitaan orang lain melalui sumbangan seni yang murah hati.Kemudian, “Artists often feel the pain of other fellow human beings and animals. They develop compassion and passion for various charitable causes and try to alleviate suffering of others through generous art donations. “Donor loyalty is not about the donor being loyal to you, it is you being loyal to the donor.”

Keramahan dan kemurahan seniman ini belum dibaca oleh masyarakat, pameran yang bertajuk‘Art for charity´ini sebagai bukti kepedulian seniman dalam membaca kondisimasyarakat,.Mereka tidak pelit melepaskan karya untuk dimasi dan amal yang diharapkan adalah kesenangan Bersama. Mereka yang terjkena musibah banjir atau kerusakan akibat ala mini sebagai momen yang tepat dalam menanggapi serta memberikan hati yang tertuang dalam karya rupa ini sebagai uluran kasih sayang. Maka Friedrich Nietzsche (seorang filsuf) menyatakan ‘Art is the proper task of life’.

Akhirnya, kepada penimat seni bisa disampaikan harapan; bahwa karya seni ini sebagai wahana untuk memelihara hubungan social dengan masyarakat, dan seniman sangat peduli dengan kesedihan yang menimpa masyarakat. Keikhlasannya melepas karya seni ini sebenarnya merupakan ungkapan yang terdalam. Jika dikaitkan dengan kecerdasan kolegialitas, maka seni itu bagian dari berbudayanya seniman, hanya cara dan mengungkapkan perasaan berbeda dengan masyarakat awam. Seniman jadi bagian dari pranata social untuk bergaul dengan masyarakat. ‘If art is to nourish the roots of our culture, society must set the artist free to followhis vision wherever it takes him(John F. Kennedy).  Bagi masyarakat di amanatkan oleh Albert Camus: ‘Without culture, and the relative freedom it implies, society, even when perfect, is but a jungle. This is why any authentic creation is a gift to the future.Biarkan seniman membaca alam social dan lingkungannya sebagai bagian dari kreativitas dan pengabdiannya kepada masyarakat itu sendiri.Bagi seniman:‘Creativity is allowing yourself to make mistakes. Art is knowing which ones to keep(Scott Adams). Hilangnya karya yang terjual akan memberikan semangat apresiatif terhadap seniman, maka berikan apresiasi kepada seniman agar tidak putus kreativitasnya. Kreativitas berseni akan terus dilakukan seniman demi kesetiakawanan karena ketika seniman berseni akan mengetahui mana yang harus disimpan dan dikeluarkan dalam karya.

“Selamat beramal dengan karya, karyamu tidak akan habis karena amal, dan pameran ini sebagai bukti kepedulianmu terhadap sesama”

“ Sukses hari ini adalah keberhasilan di masa datang”

Sleman, 28 Februari 2021

Hajar Pamadhi

Untuk Melihat Karya Seniman Peduli Bencana dapat di klik disini


Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan