Seni Dalam Kacamata Awam, Tulisan Menjelang PSROO

 Seni

SEDULURNYENI.COM 25/9/2019 – Khalayak dalam hal ini masyarakat insan penghuni bumi itu sebenarnya telah mengenal seni dalam bentuk keindahan alam semesta ciptaan Tuhan telah lama.
Bahkan sejak jaman purba seni itu telah ada, tetapi baru dalam tahap awal seni mempertahankan hidup.
Seni itu tak bisa dipisahkan antara jiwa dan raga. Apalagi penikmat seni sekarang melihat visual, rasa, mendengar tentulah butuh pengalaman tersendiri. Kadar sense of art manusia memang berbeda, selera lebih dikedepankan.
Khalayak awan menilai seni itu identik dengan keindahan, rasa batin, visual dan pendengaran menangkap suatu sajian bisa menilai itu bernilai seni atau tidak.
Satu sama lain tidak sama.

Lalu apa yang membuat mereka tertarik pada seni?
Dalam hal ini jelas penglihatan, pendengaran, rasa harus bisa dipancing dan dirangsang.
Kehebohan, mungkin akan lebih memancing.
Seperti contohnya seni jatilan, menarik karena ada tarian, musik yang heboh, dandanan yang meriah dan lagi ada adegan trance.
Pertunjukan musik akan lebih menarik daripada pameran seni lukis untuk mengundang khalayak ramai, karena ada kehebohan ( tanpa mengecilkan pameran seni lukis ).
Jadi apa sebenarnya yang membuat menarik?
Sebenarnya ya kehebohan itu, buat ramai dan bisa mengundang khalayak.
Seni apa saja bisa dikemas sedemikian rupa untuk bisa mengundang khalayak untuk melihat, tinggal kecerdasan saja untuk membuat seni bisa dikenal dan dirasakan khalayak ramai.
Sesuatu hal mungkin menguntungkan dari segi bisnis, pertunjukan seni harus bayar. Bisa saja asal dengan syarat harus seberapa kuat pertunjukan perhelatan seni bisa menarik dan menyedot khalayak yang rela membayar. Kalau tidak menarik, jangankan membayar, gratis saja tidak mau datang.
Karena seni berkaitan dengan selera, maka insan yang bergelut dengan seni harus pandai mengemasnya.

Tulisan menjelang PSROO 5-14 Oktober 2019 di nDalem Djayaningratan.

Photo & narasi
Dodo Alpinistmust Soewarno


Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan