Perjalanan Seniman Indonesia di Singapura

 Seni

SEDULURNYENI.COM 7/4 2019 . Saya sering mengembara ke banyak tempat di dunia demi seni lukis. Saya bergiat aktif
sebagai pelukis dan juga pengelola pameran. Dalam proses merantau itu saya menemukan berbagai pengalaman, peristiwa dan meluaskan jaringan silaturrahmi. Papar Abu Jalal Sarimon kepada sedulurnyeni.com
Pada bulan Desember 2018, saya terpanggil untuk membuat pameran di galeri APEL
WATOE di Magelang, Borobudur Indonesia. Galeri yang dipunyai oleh teman pelukis Deddy
Paw. Kami berdua menyiapkan urusan logistikal, penerbitan, media dan mendapatkan
seniman dari 11 negara untuk menyertai pameran yang kami panggil “Freedom & Love”.
Pameran yg di buka rasmi oleh Dr Oei Hong Djien pada tanggal 9 March 2019 berjalan
lancar, dengan acara pembukaan majlis yang megah, liputan media yang meluas dan
penjualan yang positif.
Pulangnya ke Singapura saya mendapat berita positif di mana 13 proyek melukis mural di
estet perumahan Ang Mo Kio telah diluluskan. Proyek ini harus diselesaikan pada tanggal 5
April 2019 dan acara Pembukaan Rasmi akan dibuat pada tanggal 6 April 2019.
Saya mengambil kesempatan ini untuk membuka ruang bagi teman-teman seniman di
seluruh dunia untuk tampil ke Kota Singa dan berkarya bareng. Seniman dari Malaysia Alef
Ahmad, Farrukh Negmatzade (Tajikistan), Dgers (France), Pervaj Hasan (Bangladesh) dan
Chia Chor Hua (Singapura) hadir untuk menghasilkan karya mural di Kota Moderen ini.
Seniman Indonesia Syis Paindow, Cipto Purnomo dan Niluh Sudarti sampai pada tanggal 17
March 2019.
Syis Paindow, Cipto dan Niluh dipilih kerana mereka mempunyai kekuatan sendiri dan
punya disiplin diri yang amat tinggi. Syis Paindow, 48 tahun, terkenal di Jakarta sebagai
pelukis sosial komentari ‘Hyper Realist’. Setiap pembikinan karyanya memerlukan
konsentrasi dan sentuhan kuas yang cukup halus lagi dinamik, lantaran menghasilkan karya
yang sangat realistik.
Cipto Purnomo (36 tahun) bermula sebagai pematung kontemporari dengan menggunakan
berbagai bahan seperti logam, resin, fiberglass, tembaga dan batu. Dalam tahun 2001 Cipto
aktif melukis di kanvas, bertemakan sosial komentari dengan menerapkan gambaran adat
dalam alam surrealisma.
Niluh Sudarti (39 tahun) seniman wanita yang bertubuh kecil dengan disiplin dan semangat
melukis yang cukup tinggi. Karya beliau dipenuhi dengan texture tebal, garisan-garisan
expressi dan warna-warna yang cukup berani. Setiap karyanya memaparkan kisah sejarah
dan adat Indonesia.
Kekuatan karakter dan kualitas yang ada pada ketiga seniman Indonesia ini memberi saya
keyakinan bahawa mereka ini boleh melaksanakan proyek melukis mural dengan baik. Saya
merancang dan berdikusi dengan mereka bagaimana untuk menghasilkan karya yang
terbaik. Ini teramat penting kerana setiap penghasilan karya akan menjadi profil terbaik buat
para seniman. Singapura adalah negara termaju di dunia da pastinya setiap mural yang
dilukis di sini akan menjadi suatu tumpuan penting buat setiap penduduk dan para tamu dari
setiap negara.
Syis Paindow diberi kepercayaan menghasilkan karya Merlion dan Monalisa. Skil hyper
realist diterapkan dengan cermat oleh Syis. Wajah Monalisa sedang makan durian kelihatan
realistik dan instant menjadi favorit setiap yang melihatnya. Merlion bercorak berlian jugak
terhasil dengan setiap detail dihasilkan secermat mungkin. Merlion ini yang sama besar

dengan yang original di Bandar Marina Bay seolah-olah memanggil orang ramai untuk
berwefie dan mengukir kehadiran mereka di estate Ang Mo Kio.
Cipto Purnomo dan Niluh Sudarti menghasilkan karya ‘Durian’. Original idea yang saya
lahirkan berdasarkan modern kontemporari art dapat dihasilkan dengan sempurna. Cipto
sangat teliti dalam pemilihan warna dan melukis dengan konfiden. Niluh yang masih baru
dengan mural art juga berani tampil ke depan, memanjat tangga dan duduk lama di lantai
untuk menyiapkan setiap detail warna dan texture. Lukisan durian yang berdasarkan konsep
keharmonian keluarga tanpa handphone akhirnya siap dalam tempo 5 hari. Instant, karya
ini juga menjadi kegemaran setiap pengunjung.
Mereka menggunakan cat akrilik dan emulsion, melukis langsung ke tembok berukuran 11m
(lebar) x 7 m (tinggi). Tugas ini cukup mencabar kerana setiap karya perlu disiapkan
dalam masa 10 hari dan cuacanya amat tidak menentu. Setiap hari terik mentari membakar
kulit dan saat hujan semua pekerjaan harus berhenti. Mereka harus menjaga
kesihatan diri dengan diet makanan yang sehat dan tidur yang cukup. Dalam proses
pembikinan, seniman terbuka dengan masyarakat dan orang ramai yang sentiasa berminat
untuk bertanya dan berinteraksi. Para seniman Indonesia berinteraksi dengan konfiden
walau mereka kurang fasih berbahasa Inggeris. Masyarakat setempat memberi respon yang
cukup baik dengan berkongsi air minum dan makanan ringan.
Pada tanggal 4 April 2019, Syis Paindow, Cipto Purnomo dan Niluh Sudarti, berjaya
menghasilkan  6 karya mural yang sangat fenomenal. Karya besar yang berdiri megah
menghiasi estate Ang Mo Kio menerima respon positif dari setiap orang yang melihat
termasuk Dr Koh Poh Koon, Menteri Kanan Industri dan Perdagangan dan Ahli Parlemen
daerah Ang Mo Kio. Pada tanggal 6 April 2019 pada jam 3 sore, menjadi hari sejarah di
mana setaip karya yang dilukis dibuka rasmi oleh Dr Koh Poh Koon.
Dari jauh saya melihat seniman Indonesia, Syis Paindow, Cipto Prnomo dan Niluh Sudarti
tersenyum megah, berpuas hati dengan penghasilan karya yang diterima oleh setiap
masyarakat Kota Singapura. Abu Jalal Sarimon / sukoco.

 

 


Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan