PAMERAN SENI RUPA OFFLINE – ONLINE

 Seni

Oleh Jajang R Kawentar

SEDULURNYENI.COM – Istilah Pameran Seni Rupa Online Offline kalau dibahasa Indonesiakan menjadi Pameran Seni Rupa Daring Luring. Dalam Kamus Umum, Daring (online) menunjukkan keadaan terhubung, sementara Luring (offline) menunjukkan keadaan terputus. Inti keduanya menunjukkan kepada teknologi telekomunikasi.  Salahsatu cara berkomunikasi seniman dengan masyarakat penikmatnya melalui karya, istilahnya pemeran. Barangkali semua sudah maklum, bahwa pameran online itu menampilkan unggahan foto atau video karya-karya seniman dan profilnya melalui teknologi telekomunikasi yang saling terhubung dengan perangkat telekominikasi lainnya.

Sementara yang dimaksudkan Pameran Offline itu sebatas menampilkan karya-karya seniman yang disusun disebuah ruang tertentu, bisa di luar ruangan gedung atau di dalam ruangan dan wujudnya bisa dinikmati serta diamati secara langsung oleh pengunjung pameran. Para pengunjung Pameran Offline tersebut terbatas oleh kehadiran pada ruang pamerannya dan juga kehadiran karyanya.   

Kalau berpikir bahwa pameran offline itu tidak harus berlama-lama, satu hari atau hanya beberapa jam saja di manapun tempatnya atau bahkan hanya beberapa menit saja. Kemudian bisa berpindah-pindah sehari itu, melihat situasi dan kondisi. Seperti halnya keinginan yang serba cepat, begitupun informasi dan teknologi yang berkembang begitu cepat. Tidak mungkin kencangnya laju teknologi dan kebutuhan ekspresi dilawan atau hanya menunggu dilakukan orang lain. Hampir semua orang memanfaatkan fasilitas tersebut, mengikuti laju percepatan langkah-langkahnya. Oleh karenanya pameran Offline dilanjutkan dengan pameran Online, secara bersamaan.  

Pameran online dengan ruang tanpa batas, siapapun, dimanapun bisa melakukan asalkan dapat mengoperasikan teknologi telekomunikasi yang menunjang tersebarluasnya image atau video karya tersebut di jejaring media sosial. Umumnya menggunakan media sosial Facebook, Instagram, Blog, youtube dan Website. Sehingga menjangkau para pengguna media sosial di belahan bumi terjauh. Sejauh apapun jarak pengguna media sosial seperti tidak berjarak dan tidak mengenal waktu mendapat informasi yang sama dan bersamaan pula.

Akibat seseorang sering mengunggah karyanya secara online akhirnya dapat terkoneksi satu sama lainnya, saling mengenal karya kemudian saling berkenalan. Terjadi kesepakatan tidak tertulis berkelompok-kelompok menurut ketertarikannya sendiri. Bahkan sampai terjadi transaksi jual beli, kunjung mengunjungi, pameran bareng dan yang paling signifikan saling pengaruh mempengaruhi. Pengetahuan seni dan perkembangannya semakin cepat serta luas.

Apakah mereka memiliki latar belakang akademik seni atau tidak, atau siapapun dia, entah profesional atau amatir, tidak mengenal batas umur, sekalipun anak balita. Semua mendapatkan ruang seluas-luasnya sesuai kemampuan memanfaatkan teknologi komunikasi tersebut. Mereka semua mendapatkan apresiasi yang baik, dan sering terjadi diskusi dibandingkan kritik. Karena kritik di medsos menjadi sangat sensitif, bagi yang tidak berkenan dan tidak faham bisa disalahartikan dengan anggapan pelecehan.   

 

Pameran ‘Status’

 Banyak akun milik pribadi dan perusahaan diiklankan dalam media sosial, sebetulnya apa maksud dan tujuan mereka? Popularitas dan eksis di publik penting bagi mereka. Bagian dari mempromosikan perusahaan atau dirinya atau memasarkan kemampuan dan karyanya. Sudah banyak seniman mengkampanyekan dirinya dengan gunakan jasa iklan di media sosial. Dikenal secara offline tapi belum tentu dikenal secara online

Kedudukan kita semua sama dihadapan teknologi, seringkali kita menyaksikan masyarakat biasa tiba-tiba menjadi terkenal karena viral di media sosial. Kita seringkali menyaksikan unggahan konten yang sama dalam media sosial oleh bermacam tingkatan sosial masyarakat. Namun tetap saling menyapa, saling like dan share konten-konten menarik.

Kedudukan karya seni di media sosial juga memiliki kesempatan setara, tidak lagi melihat siapa yang memposting karya tersebut. Semua memiliki folowernya sendiri, bahkan diantara mereka tidak saling mengenal.  Jadi barangkali tidak acuh siapa yang berkarya. Baik atau tidak, sepertinya bukan ukuran. Penilaiannya yang muncul antara suka dan tidak suka atau berupa dukungan karena terikat oleh sistem pertemanannya.

Berhamburan ‘status’ dari pengguna akun baik berupa foto atau kata-kata bijak, kata-kata tak bermakna atau reportase, atau seperti sekilas info, bahkan sumpah serapah di media sosial. Semua memiliki pendukungnya sendiri-sendiri, seperti memiliki team tanpa harus ada komando. Secara spontan masing-masing bekerja mengelompok sejalan dengan pemikiran dan tujuannya. Namun sekarang para pendukung bisa diciptakan dengan menyewa atau membayar penyedia jasa folower.  

Mengunggah karya seni rupa menjadi ‘status’ di media sosial, sama seperti pameran atau memamerkan karya. Tentu berharap mendapatkan tanggapan publik, dan barangkali berharap ada tindaklanjut secara Offline. Ada juga akun yang biasa mengunggah karya-karya seni rupa, menginisiasi membuat group atau kelompok sesuai minatnya. Bermula dari group media sosial yang umum itu kemudian lebih spesifik ke group Whatsapp (WA) sampai pada antar pribadi pemilik akunnya.

Pada hakikatnya hal itu dalam rangka Pamer, atau menunjukkan hasil dari kreatifitasnya berupa karya sebagai media promosinya, belajar dan penjualan. Apakah penciptaan karya bemula dari hobi atau proses belajar akademik atau sebuah pekerjaan rutinnya, atau bahkan dari proses belajar yang dimulai melalui media sosial juga. Semua saling menunjang. 

 

Bebas Gaya Santun Dalam Rupa

Seperti kesepakatan bersama dalam berkarya, gaya boleh bebas namun tetap santun. Karena jika keluar dari kesepakatan itu menanggung resiko, biasanya diunfriend atau dibully. Menghindari dibully atau diunfriend, menjaga santun bersikap. Dalam kebersamaan santun lebih utama, namun apakah santun akan memberi ruang kebebasan? Meskipun terkadang perubahan itu diawali dari hal banyaknya yang melanggar kesepakatan tersebut, mungkin karena kesepakatan yang tidak relevan lagi.

Bagaimanapun Bebas Gaya Santun Dalam Rupa menjadi kesepakatan Pameran Seni Rupa Online Offline (PSROO) yang telah melalui proses panjang atas kesepakatan-kesepakatan yang telah disusun bersama oleh Sukoco Hayat dan kawan-kawan. Dalam Hal ini menegaskan bahwa siapapun punya hak untuk ikut berpameran dan turut serta, dengan azas saling menghormati saling menghargai dan saling belajar. Begitu pula yang berlaku umum pada aktivitas online. Pada akhirnya setelah semua karya terpajang, penilaian semua  diserahkan pada pengunjung pameran.

Pameran online offline ini melibatkan maestro lukis, putri dari pelukis Affandi, Ibu Kartika Affandi, menunjukan dukungan besar beliau untuk pelukis yang terlibat pameran ini, datang dari beberapa daerah di Indonesia seperti Aceh, Bali, Jakarta, Jawa Timur, Jawa tengah, Jawa Barat dan Yogyakarta sendiri. Tentunya memberikan spirit terutama kepada pelukis pemula juga paling muda. Pameran ini juga mempersatukan dan mempertemukan pelukis yang sudah malang melintang dalam event pameran dengan yang baru pertama kali mengikuti pameran, atau pertama kali pameran di Yogyakarta.

Yogyakarta memiliki banyak ruang yang terbuka untuk berpameran seni rupa, dan banyak yang memimpikan untuk dapat berpameran di kota ini. Kesempatan ini dijembatani oleh PSROO dan merupakan event pameran pertamanya yang dilakukan secara offline. Lebih dari seratus peserta mengikuti dengan berbagai macam gaya serta media lukisnya.

Berbicara masalah kualitas karya akan lebih cair ketika semua karya telah didisplay. Pengunjung akan mengamati dan mungkin membandingkan karya satu dengan lainnya, tanpa menghiraukan lagi latar belakang pelukisnya. Potensi-potensi khusus setiap pelukis diharapkan menarik minat bagi yang membutuhkan dekorasi ruang atau koleksi karyanya.

Pameran ini lebih kepada memberikan spirit, membangun komunikasi dan apresiasi. Menjaga hubungan diantara semua itu dicoba dikelola, sehingga pameran ini menjadi sangat berarti dan penting bagi yang terlibat serta masyarakat seni dimanapun. Menginspirasi bagi lembaga-lembaga yang konsesns terhadap seni budaya. Meskipun kita tahu sudah banyak yang melakukan bahkan mungkin mengawalinya, namun bagaimana menjaga supaya berkelanjutan dan mengikuti perkembangannya.

Kebutuhan seniman tidak hanya berkarya sebagai wujud dari eksistensi, namun dengan adanya teknologi komunikasi turut mendokumentasikan setiap mencatat proses dalam berkarya di media sosial sebagai ‘status’ dimana setiap jejak digitalnya akan mengungkapkannya ulang. Kekuatan kreatifitas dan imajinasi seniman kini tidak hanya dalam berkarya juga mengatur memanfaatkan teknologi komunikasinya.

Pameran Online Offline dapat dilakukan setiap saat secara mandiri, setelah memahami syarat standarnya.  Membuat khasanah seni rupa semakin kaya, tidak ada jarak antara perupa autodidak dan akademik. Semua bertumpu pada kualitas, kuantitas karya dan respons publik terhadap karya yang diciptakan dan ditampilkan. Tidak dapat dipungkiri keselarasan ide dan gagas dengan jamannya menjadi kunci menarik simpatik, serta bagaimana menyajikannya.     

Semoga dengan PSROO dapat menjalin komunikasi antar seniman semakin erat dan lancar, membuka cakrawala seni lebih luas lagi; bahwasannya seni rupa itu bukan hanya milik golongan atau kelompok, tapi milik semua orang.      

Yogyakarta, 25 September 2019, penulis aktif di Art Critique Community


Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan