Moralis vs Muralis Tulisan menjelang PSROO

 Seni

Moralis vs Muralis
Tulisan menjelang PSROO
di nDalem dJajaningratan
5 – 14 Oktober 2019

SEDULURNYENI>COM Sama-sama perbuatan sengaja menyampaikan pesan dalam bahasa santun atau kasar yang berbeda.
Moralis sangat membahasakan keinginan kuat ajakan untuk berbuat, beretika moral kebaikan dalam kehidupan.
Moralis sering mendengungkan dan menilai bahwa ajakan itu wajib dilaksanakan dalam tatanan kehidupan mapan. Akan tetapi pada kenyataanya sering bertolak belakang. “Gampang le ngomong ning le nglakoni angel”. Jangan heran kadang moralis lebih bejat, lebih busuk bau mulutnya seperti comberan berbungkus wewangian ketimbang yang dianggap bejatis tadi. Kesan menggurui, merasa benar sendiri dan menganggap paling baik kerap disandang mengubur kaum ini.

Muralis itu bebas, tanpa sekat-sekat jujur apa adanya.
Berbicara sendiri melalui
coretan, gambar, tulisan tak bermakna, suka-suka. Bukan hal aneh tiba-tiba terpampang pada tembok mencuri perhatian.
Bahasa gambar bisu yang dibuat sarat makna atau tidak bukan menjadi persoalan. Santun atau kasar tergantung interpretasi saja.
Muralis itu tidak melulu indah berselera seni tinggi, sebuah coretan saja bisa mewakili cerminan kegundahan juga penyayat hati. Diperlukan kecerdasan menafsir makna dari bahasa gambar bisu, menunggu orang-orang baper untuk ditampar.
Muralis sedang menyindir, memperolok atau meludahi tembok tanpa makna saja sudah bisa membuat dahi mengernyit. Bagi yang peduli akan tambah berpikir menerka pesan moral apa yang dikandung. Buat yang merasa, seperti jenggotnya sedang dibakar.
Hanya sebuah gambar tembok, lalu mengapa kamu tersinggung?
Dan sang muralis membatin lalu memperolok, ini buat kamu goblok aku sendang menimpali kamu dengan tai, buat kamu yang sok moralis.(26/9/2019)

Photo dan narasi
Dodo Alpinistmust Soewarno


Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan