Mengapa Mami Kartika & Nasirun dalam Pameran Seni Rupa Perupa Difabel

 Seni

SEDULURNYENYI.COM – Perhelatan seni rupa di Jogja sungguh luar biasa, pada bulan Juli-Agustus 2019 merupakan bulan Istimewa yang padat dengan kegiatan  pameran menyemarakan perhelatran Seni Rupa Tanah Air. Pameran yang bertajuk Jiwa Merdeka “ Merubah Kekurangan Menjadi Kelebihan “ adalah pameran seni rupa karya perupa difabel yang telah di buka pada tanggal 22 Agustus 2019 di Gallery Omae Kartika , Padasan, Pakem Binangun, Pakem , Sleman, Yogyakarta Oleh Mami Kartika, Nasirun bersama Pak Broto  dkk  memberi warna tersendiri, menginspirasi para perupa dan masyarakat pencinta seni.

Pameran ini di gagas oleh Mami Kartika ketika 2 tahun lalu sempat bertemu dengan salah satu Pelukis difabel yang berkunjung ke gallery bernama Sadikin, dan Mami Kartika bersama Mas Mommi menginisiasi hal ini dibantu oleh peran serta Pak Broto dan Pak Sujud sebagai penulisnya dan baru bisa terselenggara pada bulan Agustus ini, papar Mas Mommi kepada jurnalis sedulurnyeni.com.

Diruang Gallery Omae Kartika, jurnalis sedulurnyeni juga mencoba mewawancarai Mami Kartika tentang pameran ini, Mami bercerita banyak hal masa lalu yang membentuk beliau menjadi pribadi yang kuat seperti pria tetapi tetap keibuan atas didikan Papi Afandi. Mami merasa sebagai Ibu dari para seniman berkewajiban  membantu kepada saudara kita perupa, diantaranya perupa difabel untuk bisa berkesempatan berpameran di Gallery miliknya. Sebuah kebahagiaan bila hidupnya berarti bagi yang lain, harta benda tak ada artinya, berbuat sesuatu dengan karya kita, orang lain bisa menikmatinya kenapa tidak?  Papar Mami dengan  ramahnya menggugah semangart dan menginspirasi.

Bung Nasirun juga luar biasa, beliau lebih menohokkan kepada unsur kasih dan berbagi, bawasanya karya seniman tidak mesti lukisan, tetapi berbagi terhadap sesama itu sebuah karya syukur untuk meng Akbarkan Tuhan. Pameran ini memerdekakan setiap insan untuk mensyukuri talenta yang ada di setiap orang bukan hanya kepada perupa difabel, apapun profesinya anugrah talenta yang ada mestinya dilakukan dengan konsisten. Pada manusia yang  normal tetapi bila tidak konsisten mensyukuri talentanya itu sama saja dengan orang Cacat, Namun perupa difabel dengan ketidak sempurnaan secara fisik yang mengoptimalkan talentanya dengan konsisten adalah karya syukur Meng Akbarkan Tuhan Gitu Lhoh…..kweren bung Nasirun sangat religius dengan penampilan metal ( Ringkasan bincang Sukoco Hayat dengan Nasirun di sela lantunan suara emas Picuk Siwi  Asmara).

Kembali kepada Perupa difabel jurnalis sedulurnyeni.com mewawancari salah satu peserta pameran yaitu Agus Yusuf dari Madiun. Agus beserta 4 seniman difabel yang tergabung dalam Yayasan AMFTA ( Assosiation Mouth and Foot Painting Artist ) Perkumpulan Pelukis Mulut dan Kaki yang berpusat di Swis sangat senang dengan kesempatan yang di berikan oleh Mami Kartika dalam pameran ini. Agus sejak kelas 2 SD sudah gemar melukis dan beberapa kejuaran telah di raihnya, Agus masuk di Yayasan AMFTA  sejak tahun 1989 hingga sekarang. Agus berkeinginan bisa berpameran tunggal dan sudah memepersiapkan 50 Karya siap pamer dan berharap ada sponsor untuk mewujudkan impianya.

Pameran Seni Rupa Karya Perupa Difabel “ Jiwa Merdeka, Mengubah Kekurangan Menjadi Kelebihan “ di ikuti oleh 7 seniman yaitu Agus Yusuf,Dwi Putro, Faizal Rusdi, Muhammad Amanatula, Salim Harama, Sadikin Pard dan Subroto Sm  sangat menginspirasi dan akan berlangsung hingga 5 September 2019 mendatang, Monggo sami rawuh kagem apresiasi, rekreasi, edukasi dan Inspirasi tentunya. Sukoco Hayat/ Sedulur Nyeni (22/8/2019)


Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan