Pameran Seni Rupa JHÂGHÂ digelar 24-30 Juni 2019

 Budaya, Seni

SESULURNYENI.COM 26 Mei 2019

PENGANTAR TEMA PAMERAN

Jhâghâ ( mengambil kata dari bahasa madura ) memiliki arti bangkit; berdiri ( dari duduk, tidur, dan sebagainya ). Kata ini sering diucapkan dalam kultur masyarakat madura sebagai kata perintah untuk menggugah obyek agar sadar ( membangunkan dari tidur ) atau untuk bangkit ( berdiri dari posisi duduk ). Kata ini sangat menggelitik untuk menjadi tema sentral jika kita melihat keberadaan seniman / perupa, khususnya yang berdomisili di daaerah yang notabene bukan kantong kantong kegiatan seni, dimana seni rupa ( khususnya ) seperti mati suri. Sudah lazim terjadi, seringkali seniman di daerah mengalami stagnansi dalam berkarya, hal ini mungkin diakibatkan faktor personal ( zona nyaman, tertutup, dll ) maupun faktor eksternal ( kemajuan tekhnologi, pesatnya perkembangan seni, dll ). Jhâghâ bermakna bahwa perlu adanya semangat  perubahan menuju  kondisi yang lebih baik.  Benang merah ini yang jika dicermati oleh seniman dan perupa akan menjadi motivasi penting bagi terciptanya karya karya yang berkualitas.

Konsep ini dipilih untuk memberikan semangat kebaruan dan motivasi bagi pelaku seni khususnya perupa serta kegiatan pameran seni rupa ( khususnya di daerah tapal kuda ) yang lebih prestisius dari segi apresiasi karya maupun dari penyajiannya. Tema ini juga memiliki  makna bahwa semangat berkarya jangan sampai pudar meski kita sebagai seniman tidak berdiam di kantong – kantong seni. Tema- tema lokal masih up to date untuk dijadikan subject matter bagi karya – karya yang akan dihasilkan.. Perbedaan seni rupa di satu daerah melahirkan kekuatan lokal (indigenous) dari masing-masing daerah. Keunikan dan kreativitas bahasa rupa dari pelosok Nusantara memiliki makna dan nilai-nilai yang kaya sebagai proses pembelajaran dalam memahami fenomena budaya.

Festival Kesenian Gerbong Maut #2 2019 ini akan menghadirkan seni rupa yang bukan semata terbatas pada seni 2D maupun 3D namun juga karya karya seni fotografi yang dalam perkembangannya sering kali diperdebatkan bukan bagian dari seni rupa. Pameran yang melibatkan perupa seluruh Nusantara ini akan memberi makna positif yaitu terjalinnya interaksi dan komunikasi di antara perupa-perupa nusantara sehingga diharapkan membawa gerakan perubahan yang positif bagi dunia seni rupa. Mereka akan melihat, mencermati, menghayati, dan mengkomunikasikan satu sama lain kekayaan seni rupa Nusantara. Pada sisi lain menyadari pentingnya eksistensi bangsa Indonesia di tengah era globalisasi, maka mengikutsertakan karya-karya seni rupa perupa dari beberapa nusantara  juga menjadi hal penting. Melalui interaksi global, akan tumbuh kesadaran pentingnya identitas karya seni rupa ditumbuhkan pada generasi muda melalui karya-karya yang memiliki kearifan lokal

Pameran Akan di gelar mulai 24-30 Juni 2019 di GELORA PELITA BONDOWOSO

Perupa Peserta Pameran antara lain :

1. Tinie Jameen – jogya
2. Joseph Wiyono – jogya
3. Tri Ir – B.wangi
4. Indah – P.linggo
5. Joko Sutrisno – Bali
6. Lian M Margareta – Kediri
7. Noery Dyaz – Sidoarjo
8. Paulina – Sidoarjo
9. Imam – Bondowoso
10. Tris – Bondowoso
11. Dedy – Batu
12. Jaelani – Bondowoso
13. Tri Linggo – sidoarjo
14. Sekar arum – Gresik
15. Edi Cahyono – Banyuwangi
16. Saiful Bachri – B.woso
17. Hendrawan – Banyuwangi
18. I Gede Sukarda – Bali
19. Dedi Dwi – Bondowoso
20. Harbani – Jogja
21. Mona Palma – Semarang
22. Iron Supaley – Pasuruan
23. Benny Basugiart – Bali
24. Anhari – Banyuwangi
25. Bambang H – Sampang
26. Atie Krisna – Semarang
27. Taufik – Situbondo
28. Mona Ayu – Bandung
29. Sukoco Hayat – jogya
30. Feri jingga
31. Anis R – Banyuwangi
32. Troy H – Banyuwangi
33. Joko Dwi – Probolinggo
34. Jefri Gun – Situbondo
35. Kristin A – Lumajang
36. Johnny Gustaaf – Jogya
37. Losviana – Lumajang
38. Samsuri – B.wangi
39. Muklis – B. Wangi
40. Windu Pamor – B.wangi
41. Sigit purnomo – Pamekasan
42. Dwi Penas – Jember
43. Rara – Jakarta
44. Wahyudi – banyuwangi
45. Agus D Soe – Batu
46. Mahfud Junaedi – Jember
47. Totok – Salatiga
48. Bambang – Ambarawa
49. Nughasto – Ambarawa
50. Yunus – Ambarawa
51. Susilowati – Banyuwangi
52. Hary Eko – Jember
53. Imam shodiq – lumajang
54. Mujib Darjo – surabaya
55. Muncul – Lumajang
56. Eko totok – Banyuwangi
57. Hariyanto – Banyuwangi
58. Dyah L – Banyuwangi
59. Rastiko – Lumajang
60. Azam – Malang
61 Alfan – Bondowoso
62. Herman Susanto- Situbondo
63. Fafan A – Banyuwangi
64. Romo Agus – Samarinda
65. MB Santoso – Bali
66. Dauy – Jakarta
67. Aris Sugiarta – Bali
68. Sri Moeniarti – Surabaya
69. Camil Hady – Lamongan
70. Iswanto – Bondowoso
71. Tata – Palembang
72. Niluh – Magelang
73. lukman hakim – banyuwangi
74. Udin – Bondowoso
75. Khanza – bondowoso
76. Purnomo – banyuwangi

77. Mizanul Haq – Lombok

 

 

 

 

sedulurnyani / red

 


Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan