Gelar Karya Tugas Akhir Penciptaan Tari 2019 ISI Yogyakarta

 Seni

SEDULURNYENI.COM – Selasa,17 Desember 2019, Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan bangga mempersembahkan Gelar Karya Tugas Akhir Penciptaan Tari 2019. Acara tersebut berlangsung di Auditorium Jurusan tari, yang di produksikan oleh Hand Production. Pada gelar karya ini mengusung tema “Harmoni dalam keberagamaan” yang bearti sebuah penyamaan rasa, aksi gagasan dan minat untuk menimbulkan sebuah keselarasan agar menciptakan sebuah keindahan dalam mencapai tujuan yang dibentuk secara bersama-sama.Acara tersebut berjalan dengan lancar, dan penonton bisa mengapresiasi pertunjuk dengan baik. Setelah pertunjukan pun respon penonton sangat baik, suara gemuruh tepuk tangan pun terdengar sangat keras.

Dalam gelar karya tugas akhir penciptaan tari menampilkan 4 karya yaitu:

  1. Astika Kurune dengan judul karya “Luha Bukung”.
  2. Putri Sari Dwi Ningsih dengan judul karya “Adishree Nirwasita”.
  3. Nurhabibah Sabandiah dengan judul “Rengkak Ronggeng”.
  4. Nurlilis Ayunita Rizky dengan judul “Rueh Rong-Rong”

Dok. Astika Kurune dengan judul karya “Luha Bukung”.

Dok. Nurhabibah Sabandiah dengan judul “Rengkak Ronggeng”.

Dok. Nurlilis Ayunita Rizky dengan judul “Rueh Rong-Rong”

Dok. Putri Sari Dwi Ningsih dengan judul karya“Adishree Nirwasita”.

Mengawali pagelaran karya tugas akhir tersebut karya yang pertama oleh Astika Kurune dengan judul karya “Luha Bukung”. Terinspirasi dari karakter topeng yang di sebut Luha, Yang digunakan dalam  ritual adat kematian suku Dayak Tomun, sebagai bentuk peduli kasih sesama masyarakat, sekaligus sarana penghibur. Dari beragam Luha yang terdapat dalam suku  DayakTomun, dalam karya ini mengangkat dua karakter topeng yaitu Luha Naga dan Macan,  karakter yang terdapat dalam kedua topeng tersebut telah menginspirasi dalam karya Luha Bukung. Pada saat pertunjukan berlangsung penoton di buat merinding dengan kesakralan yang ditampilkan oleh penata.

Karya yang kedua oleh Putri Sari Dwi Ningsih dengan judul karya“Adishree Nirwasita”. Karya tari ini terispirasi dari cerita Putri karang melenu. Putri karang melenu adalah sosok yang sangat dihormati masyarakat Tenggarong. Aura keagungannya ketika muncul dari Sungai Mahakam, dipercaya masyarakat Tenggarong membawa kebaikan dan keberkahan.

Karya yang ketiga oleh Nurhabibah Sabandiah dengan judul “Rengkak Ronggeng”.Karya ini adalah representasi dari fenomena ronggeng bajidor yang mendapatkan stigma negative dari masyarakat. Padahal ronggeng hanya menjalankan tugas secara professional sebagai penari yang mencari nafkah untuk melanjutkan kehidupan. “Ronggeng bukanlah wanita tuna susila, gitek geol goyang hanya untuk kebutuhan menghibur, dikehidupan nyata ronggeng tetaplah manusia biasa”. Pada penampilan karya bibah ini penonton terpukau akan kelincahan penari jaipong yang sangat sexy.

Karya yang terakhir oleh Nurlilis Ayunita Rizky dengan judul “Rueh Rong-Rong”. “Rueh rong-rong” karya ini terinspirasi dari pebelian (pemimpin upacara adat belian) terutama yang berjenis kelain perempuan dalam upacara adat Belian yang ditunjukan untuk keselamatan masyarakat  didaerah Penajam Paser Utara Kalimantan Timur, dalam Upacara Adat Belian ada satu benda yang menjadi syarat utama yaitu Gelang (Gitang atau Rong). Gelang dipercaya mampu menghadirkan ruh atas (Dewa) dan juga ruh bawah (penganggu) agar terciptanya keseimbangan antara manusia dan semesta.Secara Koreografi karya ini banyak menghadirkan pola dan gerak melingkar yang diambil dari bentuk maupun esensi gelang, Untuk kebutuhan pertunjukan penata juga menghadirkan tiga jenis yang meliputi suara rendah, tengah, dan tinggi. (Bella Asmanabilah)


Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan