PAMERAN DAN PERGELARAN SENI SEKATEN 2019

 Budaya

 SEDULURNYENI.COM.Jogja (6/11/2019). Sekaten tahun ini sangat berbeda pada tahun sebelumnya. Di tahun sebelumnya sekaten identik dengan pasar malam tapi di tahun ini sekaten mengadakan pameran dan pergelaran seni. Pelaksaan sekaten ini di mulai dari tanggal 1 sampai dengan tanggal 9 November 2019. Pelaksanaan pameran dan pergelaran seni sekaten di tempat Bangsal Pergelaran dan Kompleks Sitihinggil Keraton Yogyakarta. Pameran sekaten ini meliputi perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono I sampai dengan asal mula kota Yogyakarta sendiri. Tidak hanya pameran yang disajikan tapi masyarakat bisa mengikuti Tresna Budaya. Tresna Budaya ini adalah pelatihan seni mulai dari belajar gamelan, menari, dan membatik.

Pelatihan ini dilaksanakan pada tanggal 2 sampai 9 November 2019 di Bangsal Pergelaran dan waktu pelaksanaan ini mulai dari 11.00 WIB sampai 21.00 WIB. Selain itu Tresna Budaya ada diskusi film yang berjudul Kota Yogyakarta Dalam Perspektif Urban dengan pemateri Bapak Bambang Pudjasworo dari Institutu Seni Indoensia Yogyakarta dan waktu pelaksanaan diskusi ini mulai dari pukul 19.00 WIB sampai dengan 21.00 WIB. Pementasan sekaten ini di mulai dari tanggal 1 – 8 November 2019. Di hari pertama pembukaan Beksan Guntur Segoro. Pada hari ini pengisi pementasan di Bangsal Pergelaran dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Tarian yang dibawa oleh para penari adalah Beksan Menak Rengganis Widaniggar, Golek Bawaraga, dan Fragmen Yarso dewo. Proses semuanya ini dilakukan 2 minggu atau 3 kali pertemuan antara penari dan pemusik. Semua penari dan musik masih berstatus mahasiswa di Universitas Negeri Yogyakarta.

Cerita ini menggambarkan perang tanding Dewi Widarniggar dari kerajaan Tartaipura yang membalas kematian saudaranya Dewi Adaniggar di tangan Dewi Kelaswara. Peperangan ini Dewi Widaninggar berharap dengan senopati wanita bernama Dewi Rengganis, dalam peperangan ini akhirnya Dewi Widaniggar harus mengakui kesaktian dan keunggulan Dewi Rengganis sehingga dia harus takluk dan bersujud dihadapan Dewi Rengganis. Tarian klasik gaya yogyakarta ini diciptakan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Ide ini ketika beliau melihat pertunjukan wayang golek menak yang dipentaskan oelh seorang dalang dari daerah Kedu pada tahun 1941. Karakter Dewi Widianinggar sendiridiperankan oleh Silih dan Dewi Rengganis diperankan oleh Azizah. Azizah dan Silih adalah mahasiswa semester 7 Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) jurusan Pendidikan Seni Tari di Universitas Negeri Yogyakarta. (H.Soleh)


Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan