I-Pedalangan Perkenalkan Pop Art Wayang Beber Bali

 Budaya

 
   

 SEDULURNYENI.COM – Jogja 5/11/2019, I-Pedalangan merupakan komunitas atau sekelompok kecil dari para pelaku seni khususnya dalang yang berada di Bali. Anggotanya kebanyakan merupakanmahasiswa yang masih menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia Denpasar. Tidak memungkiri juga, jika yang menjadi anggotanya masih melibatkan alumni maupunstaf pengajar atau dosen Jurusan Pedalangan, Institut Seni Indonesia Denpasar. Kontribusi para alumni ditambah lagi dengan dukungan seluruh anggota yang terlibat, menjadikan I-Pedalangan ini kini semakin banyak relasi dan sering bergabung pada event-event besar dan terkenal lainnya.I-Pedalangan kini cukup melejit, keselarasan, kekompakan, dan satunya tujuan para anggotanya terangkul dalam berbagai event yang ingin dan yang telah diikuti. Kontribusi seluruh anggota termasuk para alumni menjadikan I-Pedalangan mencoba untuk memperkenalkan bahwasanyasebagai dalang dalam mempertunjukkan ataumenggelar acara yang berkaitan dengan wayang memiliki kedudukan yang sama dengan bentuk seni pertunjukan lainnya, seperti Tari, Teater, Karawitan, Musik, dan lainnya.

Pandangan seseorang mengenai wayang, terlihat begitu rumit. Mungkin saja karena kesannya bahwa Wayang merupakan kesenian yang sudah cukup lama dan sangat susah untuk dipelajari, tetapi tidak untuk sajian yang akan dan yang telah ditampilkan oleh I-Pedalangan. Sajian kali ini membawa wayang yang begitu sederhana yaitu Pop Art Wayang, dan akan ditunjukkan kepada publik untuk diperkenalkan bahwa Wayang juga kini tengah dalam pembaruan dan mencoba memberikan inovasi baik pada sajiannya, ataupun bentukan maupun corak dari wayang itu sendiri. Sebagai kaum milenial kini, tentu saja memang sangat susah untuk mempelajari apa yang dianggap kuno dan sulit untuk dipelajari, tetapi tidak untuk I-Pedalangan. Kemampuan I-Pedalangan ini menciptakan pembaruan atau inovasi pada wayangnya guna mempermudah penontonnya mengerti dengan maksud dan tujuan yang ingin disampaikan, juga melalui pesan dan cerita yang begitu sederhana.“Wayang menjadi salah satu media terkuat untuk berbagi cerita, namun karena banyak yang tidak mengerti dengan bahasanya, maka kami membuat pertunjukan yang lebih mudah di mengerti. Media port art kami gunakan karena segmentasi penontonnya adalah anak-anak, sehingga mereka lebihtertarik dan begitu antusias” ungkap Putu Ardi salah satu anggota I-Pedalangan.

Setelah melakukan perjalanan dan melakukan 2 kali pementasan di Yogyakarta yaitu pertama di Asrama Putra Bali (3/11/2019) dan yang kedua di Sangkring Art dalam acara ‘Perupa Muda’ (4/11/2019) bersama 6 orang anggota I-Pedalangan yaituI Putu Ardiyasa (26) sebagai Dalang, Putu Gede Widana Putra (24) sebagai Dalang, Made Nova Diandi Pande (23) sebagai Asisten Dalang, Putu Gede Budidana Arta (25) sebagai pemusik,Pande Putu Edi Suryawan (23) sebagai pemusik, dan Komang Juliarta (28) sebagai Komposer. Kini I-Pedalangan melanjutkan perjalanannya kembali pada event “Pagelaran Hari Wayang Dunia V” dengan membawa lakon ‘Negeri Antah Berantah’ yang akan tampil pada malam hari ini (5/11/2019) pukul 21.30 di Gedung Teater Besar Gendhon Humardani, Institut Seni Indonesia Surakarta.(Deo)


Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan